Top Stories

Grid List

Nasi Jangkrik

Bagi anda pecinta kuliner, ada menu unik yang pantas dicoba yakni Nasi Jangkrik Daun Jati. Menu yang hanya ada di sekitaran Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah, ini rasanya begitu menggugah selera. Nasi hangat dengan lauk daging kerbau yang empuk dipadu rasa pedas gurih bumbu jangkrik serta aroma sedap daun jati semakin memanjakan lidah penikmatnya.

 

 

Meski dinamakan Nasi Jangkrik atau Nasi Jangkrik Kudus, sebenarnya makanan yang kabarnya enak dan menggugah selera ini sama sekali tidak memakai jangkrik. Nama jangkrik hanya dipakai sebagai daya tarik karena terkesan unik. Makanan khas Kudus ini terdiri dari seporsi nasi hangat dengan lauk daging kerbau bercita rasa pedas gurih. Daging dimasak dengan bumbu tradisional seperti cabai merah, bawang putih, lengkuas dan santan. Kemudian dimasak selama empat jam atau lebih sampai empuk dan bumbunya meresap.

Nasi Jangkrik sangat khas dan identik dengan pembungkusnya dari daun jati. Penyajiannya yang dibungkus daun jati, membuat aroma nasi jadi lebih sedap. Agar tidak tumpah, bungkusan daun diikat dengan bambu atau anyaman jerami. Harganya juga ramah di kantong, hanya sekitar Rp 15 ribu per porsi. Konon, Nasi Jangkrik merupakan makanan favorit Sunan Kudus. Biasanya nasi dibagikan gratis ke masyarakat pada hari Asyuro atau setiap tanggal 10 Muharram. Ini adalah bagian dari tradisi buka Luwur, yaitu kelambu penutup makam Sunan Kudus.

Among-among

Menara Kudus Kulon hingga kini masih mengumumkan mengenai kapan Ramadan tiba, dan tetap menjadi rujukan atau pedoman bagi mayoritas warga Kudus dalam perihal mulainya menjalani ibadah puasa. Cuma bedanya, karena media komunikasi dan informasi sudah sedemikian canggih, dari rumah pun bisa mendapatkan informasi akan hal itu.
Meski demikian toh keramaian dhandhangan tetap saja berjalan. Tradisi tersebut masih melekat di banyak warga masyarakat. Dari warga yang bersih-bersih isi rumah dan mengecat dinding bangunan rumah serta pagar, nyekar dan resik-resik kubur, hingga menyediakan among-among (sesaji) pada malam menjelang puasa Ramadan.
Prosesi tradisi dhandhangan tersebut bisa disaksikan dari visualisasi yang dibawakan warga masyarakat di seputaran Alunalun Simpang Tujuh pada sehari menjelang puasa Ramadan. Situasi dhandhangan pada awa-awalnya semasa Sunan Kudus pun diperagakan, seperti cara warga mrema dan jenis dagangan pada kala itu, dan kini sudah sulit didapati.

Dhandhangan

Pada masa lampau pasti, karena teknologi informasi dan komunikasi masih teramat sederhana, untuk bisa mendengarkan pengumuman yang sangat penting pada detik itu juga, tentu harus mendatangi secara langsung sumbernya. Tak terkecuali, ihwal bagaimana khalayak bisa mengetahui pada petang itu bahwa besok dimulainya ibadah puasa Ramadan.
Oleh sebab itulah, kemudian di Menara Kudus berkelompok warga masyarakat menanti Sunan Kudus Raden Djakfar Sodiq mengumumkan periha awal puasa Ramadan. Kedatangan khalayak tersebut kemudian mendorong kemunculan orang berjualan, sehingga membentuk pasar keramaian. Apalagi karena di lokasi keramaian, merekan bisa mrema (menjual dengan harga lebih tinggi dan dagangan yang laku lebih banyak dari biasanya).
Semula hanya sebatas makanan untuk makan sahur puasa perdana, namun mata dagangan yang di-mrema-kan akhirnya berupa-rupa. Keramaian yang terjadi itu pun pada perjalanannya diidentitaskan sebagai dhandhangan. Bunyi beduk yang ditabuh begitu Sunan Kudus usai mengumumkan awal puasa Ramadan, terdengar "dhang, dhang, dhang...”, yang kemudian diucapkan dan membentuk kata dhandhangan.
Dhandhangan berasa sebagai hari istimewa bagi warga masyarakat Kudus. Perkembangannya kemudian tidak hanya tertuju perihal pengumuman datangnya bulan Ramadan, namun juga menjadi sarana untun jalan-jalan di keramaiannya. Kesempatan ini pun tak disia-siakan para gadis yang tengah menjalani masa pengawasan ketat orang tuanya lewat tradisi pingitan, ikut menikmati suasana dhandhangan.
Orang tua mereka memberi semacam kelonggaran, bahkan bisa leluasa jalanjalan di keramaian hingga malam hari. Meski masih juga didampingi anggota keluarga pria. Gadis pingitan bisa beroleh kenalan teman pria di keramaian dhandhangan.

Bancakan "Sewu Kupat"

Badha Kupat di Desa Colo (Gunung Muria), Kecamatan Dawe, berasa beda. Perayaan tradisi yang dilakukan pada sepekan setelah hari pertama Idul Fitri ini, menjadi semacam agenda wajib bagi warga masyarakat yang tinggal di puncak gunung tersebut. Tradisi Parade Sewu Kupat Kangjeng Sunan Muria, sejatinya bermula pada 2008 silam. Ketika itu, Bupati Kudus Musthofa Wardoyo yang baru saja terpilih, melihat kekayaan sejarah peninggalan Sunan Muria belum terkelola dengan baik. Ia kemudian berinisiatif menggandeng masyarakat sekitar makan Sunan Muria di desa Colo, Kudus, mengadakan perayaan tahunan "Sewu Kupat".

 

 

Didahului dengan selamatan oleh seluruh penduduk di jalan yang membentang di depan balai desa pada pagi yang masih basah oleh embun. Belasan gunungan ketupat diarak dari Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tiba di Taman Ria Colo, gunungan ketupat langsung jadi rebutan warga. Tradisi tahunan ini disebut 'Sewu Kupat' yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Sewu dalam bahasa Jawa artinya seribu. Sedangkang kupat merupakan ketupat. Pantas saja, dalam tradisi ini terdapat belasan gunungan yang berisi ketupat. Tidak hanya ketupat, setiap gunungan juga berisi berbagai hasil bumi lereng Gunung Muria dan jajanan berbahan beras ketan yang dibungkus janur, yaitu lepet. Gunungan itu dibawa oleh masyarakat Kecamatan Dawe dari masing-masing desa. Masing-masing warga yang mewakili keluarganya datang dan membawa segepok kupat dan lepet, duduk bersila di tikar yang digelar di jalanan.Begitu prosesi tersebut berakhir, kupat dan lepet yang terkumpul dibawa naik ke makam Sunan Muria yang berada di ketinggian salah satu puncak gunung. Dari kompleks makam tersebut, kupat dan lepet yang ditata menjadi bentuk gunungan, diarak menyusuri pinggang gunung dengan berjalan kaki. menuju taman yang terdapat di Pesanggrahan. Kupat dan lepet kemudian dimakan bersama-sama oleh siapa pun yang berada di taman tersebut, setelah terlebih dulu dibacakan doa-doa.

Jangklong Muria

Jangklong adalah sejenis umbi gunung yang hanya dapat ditemukan di lereng muria, tapi sekarang banyak orang telah melupakan makanan khas kekayaan tanah negeri kita. Ubi tersebut, jarang sekali dikenal orang bahkan masyarakat asli Kudus. Hal tersebut terjadi, karena masyarakat dewasa ini cenderung bangga dengan makanan asing dan cenderung menginginkan segala sesuatu hal yang serba cepat dan praktis. Padahal Jangklong memiliki beragam manfaat diantaranya kaya akan vitamin B, dapat mengurangi resiko terkena kanker, jantung, stroke, dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti rematik, demam, cacingan, mencret, selain itu juga mengandung kalori 2 kali lipat dari pada kentang, bagi anda yang mau diet, jangklong dapat menjadi pilihan alternatif karena rendah lemak, dan khasiat jangklong yang lain adalah kaya akan mineral seperti magnesium, zat besi.

Selain jangklong masih banyak kekayaan alam yang dapat ditemui di lereng Gunung Muria yang tidak akan anda temukan di tempat lain seperti Parijoto, Pisang Byar, dan jeruk pamelo. Jangklong juga dapat diolah menjadi berbagai macam olahan yang dapat menambah nilai jangklong seperti steak, tepung dll. Dengan olahan yang lebih bervariasai diharapkan jangklong dan makanan tradisional asli negeri dapat bersaing dengan masuknya makanan asing kedalam negeri karena faktor globalisasi.

Mitos Parijoto & Pecel Pakis

Dunia agroindustri mengakui bahwa jeruk pamelo (ada yang menyebut pula jeruk bali) dari bumi Muria tergolong buah unggulan. Termasuk bagus kualitasnya, bila dilihat dari ukurannya, tampilannya, kulitnya tipis, dan sudah barang tentu cita rasanya menggoda. Jeruk pamelo produksi dari sekitar Gunung Muria, berasa manis segar. Berair namun tidak becek, sehingga setiap sisir daging buahnya juga tidak keras. Karenanya tak mengherankan bila pengunjung Gunung Muria (makam Sunan Umar Said), mencari jeruk ini sebgai oleh-oleh. Selain jeruk pamelo, buah delima juga banyak dijajakan hampir di semua tempat di daerah wisata itu. Termasuk ubi jangklong dan pisang byar. Namun, meski masak pohon, pisang byar tidak bisa langsung dikonsumsi sebagaimana pisang raja atau pisang hijau. Harus ditanak atau direbus dulu, maupun digoreng. Bila hasil bumi di atas lazim dimakan setiap saat,berbeda dengan buah parijoto yang dicari lebih dikarenakan alasan tertentu. Konon, bagi wanita yang sedang mengandung bila memakan buah berwarna merah kejinggaan ini, kelak anaknya menjadi rupawan. Parijoto, menurut ceitera tutur, kali pertama ditanam oleh Sunan Muria. Terkisah, dari kapal Dampo Awang yang kandas menumpahkan muatannya yang berupa rempah rempah, salah satunya adalah biji parijoto. Ceceran biji parijoto itupun diambil Sunan Muria, dan ditanamnya.

Hanya di Colo

Tak hanya oleh-oleh yang merupakan hasil bumi, di Gunung Muria atau tepatnya di Desa Colo ada pula makanan khas pecel pakis. Sejatinya tidak berbeda dengan ramuan pecel di banyak derah. Namun, pembedanya adalah pada sayur yang digunakan. Sesuai namanya, pecel tersebut menggunakan daun pakis sebagai ramuan dominannya. Pecel pakis bisa dimakan dengan lauk tempe atau tahu goreng serta ayam goreng maupun ayam panggang. Pakis adalah sejenis rerumputan yang mudah dan banyak tumbuh secara liar di lahan tegalan di Gunung Muria