Top Stories

Grid List

Among-among

Menara Kudus Kulon hingga kini masih mengumumkan mengenai kapan Ramadan tiba, dan tetap menjadi rujukan atau pedoman bagi mayoritas warga Kudus dalam perihal mulainya menjalani ibadah puasa. Cuma bedanya, karena media komunikasi dan informasi sudah sedemikian canggih, dari rumah pun bisa mendapatkan informasi akan hal itu.
Meski demikian toh keramaian dhandhangan tetap saja berjalan. Tradisi tersebut masih melekat di banyak warga masyarakat. Dari warga yang bersih-bersih isi rumah dan mengecat dinding bangunan rumah serta pagar, nyekar dan resik-resik kubur, hingga menyediakan among-among (sesaji) pada malam menjelang puasa Ramadan.
Prosesi tradisi dhandhangan tersebut bisa disaksikan dari visualisasi yang dibawakan warga masyarakat di seputaran Alunalun Simpang Tujuh pada sehari menjelang puasa Ramadan. Situasi dhandhangan pada awa-awalnya semasa Sunan Kudus pun diperagakan, seperti cara warga mrema dan jenis dagangan pada kala itu, dan kini sudah sulit didapati.

Dhandhangan

Pada masa lampau pasti, karena teknologi informasi dan komunikasi masih teramat sederhana, untuk bisa mendengarkan pengumuman yang sangat penting pada detik itu juga, tentu harus mendatangi secara langsung sumbernya. Tak terkecuali, ihwal bagaimana khalayak bisa mengetahui pada petang itu bahwa besok dimulainya ibadah puasa Ramadan.
Oleh sebab itulah, kemudian di Menara Kudus berkelompok warga masyarakat menanti Sunan Kudus Raden Djakfar Sodiq mengumumkan periha awal puasa Ramadan. Kedatangan khalayak tersebut kemudian mendorong kemunculan orang berjualan, sehingga membentuk pasar keramaian. Apalagi karena di lokasi keramaian, merekan bisa mrema (menjual dengan harga lebih tinggi dan dagangan yang laku lebih banyak dari biasanya).
Semula hanya sebatas makanan untuk makan sahur puasa perdana, namun mata dagangan yang di-mrema-kan akhirnya berupa-rupa. Keramaian yang terjadi itu pun pada perjalanannya diidentitaskan sebagai dhandhangan. Bunyi beduk yang ditabuh begitu Sunan Kudus usai mengumumkan awal puasa Ramadan, terdengar "dhang, dhang, dhang...”, yang kemudian diucapkan dan membentuk kata dhandhangan.
Dhandhangan berasa sebagai hari istimewa bagi warga masyarakat Kudus. Perkembangannya kemudian tidak hanya tertuju perihal pengumuman datangnya bulan Ramadan, namun juga menjadi sarana untun jalan-jalan di keramaiannya. Kesempatan ini pun tak disia-siakan para gadis yang tengah menjalani masa pengawasan ketat orang tuanya lewat tradisi pingitan, ikut menikmati suasana dhandhangan.
Orang tua mereka memberi semacam kelonggaran, bahkan bisa leluasa jalanjalan di keramaian hingga malam hari. Meski masih juga didampingi anggota keluarga pria. Gadis pingitan bisa beroleh kenalan teman pria di keramaian dhandhangan.

Kain Mori dan Sega Nuk

Berbeda dengan penjamasan Keris Ciptaka yang berlangsung dalam keheningan, perhelatan yang dilangsungkan tiap 10 Muharam tidak salah menjadi semacam peristiwa atau pentas kolosal yang diwarnai keriuhan. Peristiwa ini dikenal sebagai Bukak Luwur atau Buka Luwur, puncak prosesinya ditandai dengan penggantian kain luwur (kain tirai makam) Sunan Kudus. Diperlukan sedikitnya 1.500 meter kain jenis mori dan puluhan meter kain vitrage untuk mengganti Luwur, yang terpasang selama setahun sebelumnya dan telah dicopot pada 1 Syura di pusara maupun bangunan cungkup Makam Sunan Kudus. Pengerjaan kain tirai penghias makam tersebut dilakukan di Balai Tajug, ada bagian yang dijahit dengan mesin, tetapi hiasan yang berbentuk rumbai-rumbai murni hasil garapan tangan. Kain penghias tersebut ada yang dibentuk menjadi unthuk banyu (gelembung air), kompol, wiru, dan pyan (langit-langit). Kain yang telah dibentuk tersebut dipasang di bangunan makam Sunan Kudus pada 10 Muharam, prosesinya dimulai sekitar pukul 07.00. Setelah dipanjatkan doa-doa, kain diusung oleh sejumlah ulama. Begitu pula prosesinya secara umum , karena keterbatasan tempat, tidak mungkin bisa disaksikan khalayak. Itu berbeda dengan pembagian sega nuk (nasi bungkus), yang pembungkusnya menggunakan daun jati.Puluhan ribu warga masyarakat, antre satu per satu untuk mendapatkan bagian sega nuk di sekitar Menara Kudus. Riuh. Untuk sampai di tempat pembagian, khalayak harus menyusuri jalan-jalan sempit yang terimpit tembok bangunan rumah warga khas permukiman di Kudus Kulon. Mereka tak hanya warga Kudus, tetapi juga berasal dari berbagai kota di Pulau Jawa, yang bahkan sudah datang di Menara pada malam sebelumnya. Sega nuk yang dibagikan kepada khalayak tersebut dikenal sebagai sega jangkrik. Nasi yang konon merupakan makanan kesukaan Sunan Kudus ini, barlauk daging kerbau dimasak dengan bumbu uyah asem. Warga masyarakat yang mengantre meyakini sega nuk Menara memiliki berkah yang tak ternilai harganya.

Bancakan "Sewu Kupat"

Badha Kupat di Desa Colo (Gunung Muria), Kecamatan Dawe, berasa beda. Perayaan tradisi yang dilakukan pada sepekan setelah hari pertama Idul Fitri ini, menjadi semacam agenda wajib bagi warga masyarakat yang tinggal di puncak gunung tersebut. Didahului dengan selamatan oleh seluruh penduduk di jalan yang membentang di depan balai desa pada pagi yang masih basah oleh embun. Masing-masing warga yang mewakili keluarganya datang dan membawa segepok kupat dan lepet, duduk bersila di tikar yang digelar di jalanan.Begitu prosesi tersebut berakhir, kupat dan lepet yang terkumpul dibawa naik ke makam Sunan Muria yang berada di ketinggian salah satu puncak gunung. Dari kompleks makam tersebut, kupat dan lepet yang ditata menjadi bentuk gunungan, diarak menyusuri pinggang gunung dengan berjalan kaki. menuju taman yang terdapat di Pesanggrahan. Kupat dan lepet kemudian dimakan bersama-sama oleh siapa pun yang berada di taman tersebut, setelah terlebih dulu dibacakan doa-doa

Mitos Parijoto & Pecel Pakis

Dunia agroindustri mengakui bahwa jeruk pamelo (ada yang menyebut pula jeruk bali) dari bumi Muria tergolong buah unggulan. Termasuk bagus kualitasnya, bila dilihat dari ukurannya, tampilannya, kulitnya tipis, dan sudah barang tentu cita rasanya menggoda. Jeruk pamelo produksi dari sekitar Gunung Muria, berasa manis segar. Berair namun tidak becek, sehingga setiap sisir daging buahnya juga tidak keras. Karenanya tak mengherankan bila pengunjung Gunung Muria (makam Sunan Umar Said), mencari jeruk ini sebgai oleh-oleh. Selain jeruk pamelo, buah delima juga banyak dijajakan hampir di semua tempat di daerah wisata itu. Termasuk ubi jangklong dan pisang byar. Namun, meski masak pohon, pisang byar tidak bisa langsung dikonsumsi sebagaimana pisang raja atau pisang hijau. Harus ditanak atau direbus dulu, maupun digoreng. Bila hasil bumi di atas lazim dimakan setiap saat,berbeda dengan buah parijoto yang dicari lebih dikarenakan alasan tertentu. Konon, bagi wanita yang sedang mengandung bila memakan buah berwarna merah kejinggaan ini, kelak anaknya menjadi rupawan. Parijoto, menurut ceitera tutur, kali pertama ditanam oleh Sunan Muria. Terkisah, dari kapal Dampo Awang yang kandas menumpahkan muatannya yang berupa rempah rempah, salah satunya adalah biji parijoto. Ceceran biji parijoto itupun diambil Sunan Muria, dan ditanamnya.

Hanya di Colo

Tak hanya oleh-oleh yang merupakan hasil bumi, di Gunung Muria atau tepatnya di Desa Colo ada pula makanan khas pecel pakis. Sejatinya tidak berbeda dengan ramuan pecel di banyak derah. Namun, pembedanya adalah pada sayur yang digunakan. Sesuai namanya, pecel tersebut menggunakan daun pakis sebagai ramuan dominannya. Pecel pakis bisa dimakan dengan lauk tempe atau tahu goreng serta ayam goreng maupun ayam panggang. Pakis adalah sejenis rerumputan yang mudah dan banyak tumbuh secara liar di lahan tegalan di Gunung Muria

Makam Sunan Muria

Ketika Belanda di bawah Ratu Wilhelmina membuka usaha perkebunan di Indonesia lewat VOC-nya pada abad 16, kawasan Gunung Muria dipilih menjadi lahan tanaman kopi. Usaha perkebunan itulah yang hingga kini masih bertahan dan menjadi andalan penduduk di sekitar Gunung Muria. Sedangkan karet sudah lama ditinggalkan. Hamparan tanaman kopi tak hanya menjadi sumber
utama ekonomi penduduk, juga memperindah pemandangan alam. Namun, keelokan alami tersebut, sepertinya tak begitu dilihat. Bisa jadi kalah pamor karena
keberadaan makam Sunan Muria Raden Umar Said, yang berlokasi di salah satu puncak Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus.
Dari perkebunan kopi yang kala itu mendorong Belanda tak hanya memonopoli perdagangan hasil bumi dari Indonesia, kemudian pula pada abad 17 mengerahkan
pasukan militernya dan menjajah selama 350 tahun. Namun, Gunung Muria dan Raden Umar Said memiliki sejarah yang lebih panjang dan beragam kisah, dari pada perkebunan kopi.
Djakfar Sodiq yang dalam rentang abad 15 mengemban amanah melakukan syiar Islam, bersama sama Wali Sanga lainnya, memilih Muria sebagai wilayahnya. Ketika Muria tidak hanya berstatus alam sebagai gunung, namun masih berupa pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Saat salah satu gunung, yang terdapat di Pulau Muria itu, belum terlalu lama erupsi (meletus) untuk yang terakhir kali.
Peristiwa erupsi dan pendangkalan ekstrem di selat Muria dalam rentang abad 17 – 18, mengakibatkan Pulau (Gunung) Muria menyatu dengan Pulau Jawa. Pendangkalan hebat yang berlangsung antara garis pantai Semarang – Rembang, tak hanya memunculkan dan bertambahnya daratan baru. Namun, secara sosial juga mendorong adanya perubahan dan budaya baru.  Apalagi, ketika Deandeles membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan pada abad 18. Adanya jalur Pantura Jawa yang hingga kini masih menjadi andalan utama transportasi, tak lama kemudian diperkuat dengan pembangunan rel kereta api pada abad 19. Bentangan
jalan raya Deandeles dan jalur kereta api tersebut, sebagian di antaranya melintasi daratan baru yang masuk wilayah Kudus, akibat menyatunya Pulau (Gunung) Muria
dan Pulau Jawa.

Tujuan Peziarah

Makam Sunan Muria tiap hari selalu dikunjungi ribuan orang yang datang untuk berziarah, di samping makam Sunan Kudus. Kecuali pada hari-hari sepanjang puasa Ramadan, bagai paceklik kunjungan wisata religi, sebagaimana terjadi di semua makam Wali Sanga lainnya. Di luar penziarahan yang berlangsung setiap hari, makam Umar Said mencapai kunjungan puncak saat dilakukan bukak luwur (prosesi penggantian kain tirai makam) tiap 11 Muharam. Di samping saat Badha Kupat, sepekan setelah hari pertama Idul Fitri.Mencapai makam Sunan Muria yang terdapat di puncak salah satu Gunung Muria di Desa Colo, tidak terlalu susah. Dari areal parkir atau terminal bus Colo, bisa dengan mendaki anak tangga terbuat dari beton, dan bagi yang fisiknya kurang mendukung serta ingin lebih cepat sampai bisa menggunakan jasa sepeda motor ojek yang siap sepanjang 24 jam setiap hari. Ke makam dengan melewati jalur tangga, akan mendapati para pedagang yang mayoritas menjajakan hasil bumi lokal sekitar Muria yang telah siap makan maupun untuk dibawa pulang dan harus dimasak terlebih dulu. Di samping barang-barang cendera mata, seperti kerajinan sebagai hiasan ruangan rumah serta asesoris maupun pakaian. Namun bila menumpang ojek sepeda motor, secara tak direncanakan bisa merasakan sensasi jelajah alam. Di kanan dan kiri jalur ojek terdapat tebing terjal dan hamparan kebun kopi. Tak hanya oleh-oleh sebagai pertanda telah berziarah di makam Sunan Muria, namun juga air jernih yang disediakan di dekat cungkup makam yang berlokasi di belakang masjid. Air bening pegunungan yang menyegarkan tersebut, dipercayai sebagian penziarah sebagai memiliki tuah. Para penziarah yang menginginkan memperoleh air tersebut dilayani oleh pengelola makam.